Kamis, 05 Februari 2015

CATATAN KECIL

Wahai calon imamku di masa depan, apakabarnya kau disana? Sedang apa sekarang? Apa kau juga tak henti memikirkanku? Masihkah kau menjaga hatimu untukku? Masihkah engkau semangat berjuang menemuiku?


Haha.. hei.. aku disini mulai belajar banyak hal loh.. mulai memantaskan diri, agar jika saatnya nanti Allah mempertemukan kita, kau tak kecewa akan sikap sifatku, juga agar kau tak malu mengenalkanku pada keluargamu.


Hai ganteng, apa saat ini hatimu sama seperti hatiku? Begitu tak tenang karena dipenuhi tanda tanya akan seperti apa sosokmu. Begitu lusuh karena telah merasakan tersakiti.


Yang aku tahu, saat ini Allah sedang menyiapkanmu untukku, mungkin kamu sedang asik mengamati duniaku secara diam-diam, mungkin kamu sedang mengamati karakterku, atau mungkin kamu sedang menyiapkan banyak hal untuk membawaku pulang?


Duhai calon imamku, sampai kapan kau akan terus bersembunyi di balik bilik hati yang rapuh itu? Keindahan seperti apa yang membuatmu begitu nyaman disana? Tak inginkah engkau segera menemuiku? Perempuan yang namanya sudah bersanding dengan namamu sejak engkau masih 4 bulan dalam kandungan ibundamu. Masih semangatkah engkau berjuang memperbaiki dirimu agar mampu menjadi imam yang baik suatu saat nanti? Aku perempuanmu disini tak pernah bosan menantimu. Ku dekap engkau dengan do'a. Karena mengulang do'a-do'a itu seperti kayuhan sepeda yang akan membawa kita ke arah yang kita tuju. Dan itu adalah seindah-indahnya caraku bergeliat dalam penantian.




Jumat, 28 November 2014

PART II : SAMPAI BERLALU

Cinta itu aneh, iya.. dari dulu sampai sekarang aku tetap saja menyebutnya sebagai hal yang aneh. 5 huruf yang bisa bikin mood campur aduk, 5 huruf yang bahkan bisa menentukan akan seperti apa kita hari ini. Yaa, walaupun ada sebagian dari kalian yang akan bilang tidak pas baca tulisan ini. Tapi kalau di pikir-pikir lagi kalian pasti mengiyakan. Sebab, segala yang kita lakukan harus di dasari dengan cinta, itu kalau mau hasilnya baik sih, kalau nggak ya lain lagi.

***

Mas, duduk di belakangmu sambil menikmati udara malam yang menenangkan dulu memang gak pernah berani adek bayangin. Jangan tanya kenapa mas, karena saat adek menyimpan sebuah rasa, adek akan di rundung rasa takut, takut untuk melihat 'bunga' itu mekar. Andai mas tahu, selama setahun ini adek menyimpan sebuah harapan yang besar. Iya, harapan yang terlanjur muncul tanpa mempedulikan apa ada adek di hati mas. Harapan yang sebenernya adek juga gak pernah nyuruh dia datang. Tapi, waktu memang terlanjur membuat hati adek bergejolak mas.

Mas, andai mas tahu, saat mas begitu asik menceritakan tentang masa lalu mas, perasaan iri dan pengen nangis suka muncul gitu aja, dan adek selalu berhasil menutupinya dengan senyuman, iya senyuman yang tak akan merubah image adek sebagai gadis kecil yang ceria di mata mas.

***
"Dek, heiii,,, jangan diem dong, biasanya aja suka cerewet tanpa batas". Kalimatmu membuyarkan lamunanku, mas.

"Ih, mas apadeh? Mas ndak malu apa? Daritadi kita ngekek-ngekek gak jelas kek orang yang otaknya geser tauk".

"Hahahaha, kamu tuh geser, mas gak ikutan, weekk.."

"Ini sebenernya mau kemana deh ah? Bosen muter-muter mulu, dingin tauk"

"Iya, ya.. ini sebenernya kita mau kemana sih?"

"Mas, muter sekali lagi adek tinju dari belakang"

"Hehe, iyadeh iya, mas juga bentar lagi mau ada latihan band nih, kita kesana aja ya". Sambil nunjuk ke suatu arah, bukan tangannya yang nunjuk, tapi mukanya.

"Heleeeh, daritadi kek. Mas sengaja ya ngajak adek muter-muter gabawa helm gini? Biar apa? Biar Orang-orang tau rambut mas layak jadi iklan shampo?"

"Hahahahaha, iya, shampo r*nso".

Bersambung...


Kamis, 13 November 2014

PART I : SAMPAI BERLALU

Mas, adek kurang paham ini sebenarnya rasa apa. Iya, adek tau adek nyaman kalau sama mas, tapi apa nyaman ini tidak bertepuk sebelah tangan? Apa mas juga nyaman sama adek?

Pertanyaan itu selalu bersanding dengan segala anganku tentang Mas. Mas selalu saja jadi orang pertama yang ada saat adek butuh seseorang. Mas selalu saja berhasil bikin adek sekedar tersenyum. Mas selalu jadi moodboosternya adek.

Tapi mas, adek takut, takut untuk berharap lebih. Takut keburu punya rasa duluan yang akhirnya malah bikin adek sakit hati kalau nyatanya mas tidak punya rasa seperti yang adek punya.

***

SAMPAI BERLALU"Hei imut, lagi apa?" Seperti biasa, sekedar sapaan sederhanamu mampu memecahkan kesuraman pagiku. Iya, rasanya aku seperti tak peduli pada mendung yang menutupi mentari.

"Lagi siap-siap mau sekolah, Mas. Mas baru pulang shift malam ya mas?"

"Dih, hafalnyaa. Sejak kapan ade hafalin jadwal mas? hahahaha.."

"Hadeeeh, bukannya kemarin mas sendiri yang bilang kalau lagi shift malem? Gimana deh?"

Dalam hati sih, pengen bilang iya, iya adek hafalin setiap kegiatan mas, adek mau belajar ngertiin mas dengan segala kegiatan mas. Ah, apa? Belajar ngertiin? Entahlah, jantung aku selalu berhasil nendang-nendang setiap kali mas nyapa aku, setiap kali aku liyat mata mas yang berbinar indah.

***

"Dek, di rumah gak? Main bentar sama mas yuk, ndak sibuk kan?"

"Kemana mas? Iyasih ndak sibuk, tapi kemana dulu deh?"

"Pokoknya ada aja, uda siap-siap, setengah jam dari sekarang mas jemput ya."

Aaaaahhh ada apa ini? Tumbenan, pasti mau ceritain mantan-mantannya lagi deh. Iya, mas biasa curhatin soal mantan-mantannya gitu. Mantannya cantik-cantik, kalau aku pengen masuk ke hati dia apa juga harus lebih cantik dari mereka? Hah?? Masuk ke hati dia?? Iya, aku seperti mengagumi dan menyayangi dia, aku sulit membedakan mana sekedar rasa kagumku dan mana rasa sayangku, keduanya sama-sama didasari rasa suka.

"Assalamu'alaikum.."

"Wa'alaikumsalam.."

Dia sudah sampai rumah, aku bilang ke ibu mau pergi keluar sebentar sama dia, dia juga ijin mau ngajak aku keluar.

Di jalan, dia cuman ngajak aku muter-muter sambil kita bercandaan gak jelas, ketawa-ketawa berasa di jalanan gak ada orang lain selain kita.


Bersambung..