Selasa, 11 November 2014

[PART:III] KASIH, DIMANA HATIMU ??


Kau memintaku sepenggal kata, namun aku berikan cerita..
Ku meminta padamu seberkas cahaya, namun engkau berikan kegelapan..
Hanya kenangan yang tersisa, hanyut dalam sepenggal kisah..
Hingga kerapuhan terasa, kerinduan memaksa..
Tiada sekejap ku terdiam, tiada sempat ku merasakan..
Ku menanti namun kau menghilang, tanpa bahasa..
By : Afgan - Tanpa Bahasa

Hujan, aku mohon.. datanglah walau hanya sebentar, datanglah walau hanya sedikit membasahi tanah tandus ini. Hujan.. aku mohon.. bantu aku, bantu aku menghanyutkan semua kisah aku sama dia. Aku nggak mau rasa ini semakin menggumpal hanya untuk orang yang salah. Aku nggak mau segala rasa yang tertinggal ini menjadi penyumbat aliran langkahku untuk menggapai masa depan.

***

Aku langsung nanya soal sms itu ke Ivan, dia bilang itu sms salah kirim. Tapi logikanya, ya masak sms salah kirim langsung nanya lagi apa sih? Kayaknya ada something wrong disini. Oke, aku iyain aja tanpa melupakan. Iya, aku tetep penasaran dan pingin tau itu sebenernya siapa.

Akhir-akhir ini aku sama dia emang suka jarang kontek-kontekan sih, ya you knowlah dia siapa. Kesibukannya emang kadang suka bikin komunikasi kita nyandet-nyandet kek signal tanpa subsidi yang mahal itu. Dia lagi sibuk di forum, iya semacam bimbingan atau pelatihan gitulah, aku juga gak paham. Yang aku tahu itu forum se Jawa Timur, dimana dia bisa ketemu sama banyak siswa-siswa lain dari SMP-SMA/SMK yang juga terpilih buat wakilin sekolah mereka masing-masing.

Eh, tunggu.. Apa dia lagi punya gebetan baru ya?
Ah, masak sih? Setahu aku dia sayang banget sama aku. Duh, gabole keliyatan bodoh kan? Oke aku harus cari tau.

***

Makin kesini aku makin ngerasa sikapnya janggal banget. Kalau kemarin-kemarin kan sesibuk apa pun dia pasti nyempetin buat ngabarin aku, lhah sekarang?? Sms sekali aja kadang dia juga lupa.

Sampai suatu hari dia bener-bener gak ada kabar seharian. Aku bingung cari tau soal dia. Ah, apa? Bingung?? Iya, ini rasanya seperti bingung yang bertepuk sebelah tangan.

"Mbak, mbak tau ndak Ivan kemana?" Kalimat lelahku mulai terdengar dari ujung telpon mbak Mia, kakaknya Ivan.

"Eh, Lala. Lho, Ivannya kan lagi main ke pantai, La. Memangnya ndak sama kamu? Mbak pikir sama kamu. Ini juga dia belum pulang."

What?? Pantai??
Ah, sial. Aku bener-bener uda gak dianggep kalau kayak gini caranya.
Hah?? Memangnya aku siapa?? Cuma pacar gini >.<

Hari ini hati aku bener-bener dongkol. Rasanya kayak ditabokin sama kaki gajah tauk. Sakiiiiittttt.
Rasanya pengen banget marah, pengen banget ngeluapin semua rasa kecewa aku ke dia. Tapi apa? Aku cuma cewek, yang marah pun aku harus terlihat anggun kan? Yap, cara paling tepat adalah, diam.

Malemnya dia ke rumah.
"La, maaf ya aku hari ini ndak ada ngabarin kamu sama sekali". Dia ngomong tanpa beban banget, dan aku? Iya iya aja, ho-oh ho-oh aja >.<

***

Hari ini seperti biasa, kalau dia ada waktu luang dia sempetin jemput aku PSG terus kita jalan bareng. Tapi sepanjang perjalanan aku ngerasa ini bener-bener kayak bukan dia, feelnya itu gak dapet banget, ada yang aneh.

Dan kecurigaanku pun bener-bener berwujud.
"La, aku pengen kita break dulu ya"

"Apa, Van? Break? Untuk apa?" Nangis kan aku jadinya.

"Kita keknya akhir-akhir ini sering marahan deh, sering jutek-jutekan gitu. Aku pengen kita introspeksi diri dulu. Aku juga lagi ada masalah soalnya, aku gamau masalah aku sampe berimbas ke kamu."

"Tapi aku ada salah apa sama kamu, Van? Aku tuh akhir-akhir ini ngerasa sikap kamu ke aku berubah banget. Oke memang selama ini aku selalu milih diem. Tapi kenapa Van? Kenapa? Apa kita gabisa bicarain baik-baik? Kenapa harus break, Van?" Eh, buset dah makin kenceng aku nangisnya.

"Iya, aku tau mungkin kamu sekarang ngerasa banyak yang berubah dari aku, banyak yang berubah sama sifat sikap aku. Nanti kalau masing-masing dari kita udah tau salahnya masing-masing, kepalanya juga udah dingin, baru kita ketemu lagi, gimana?"

"Yaudalah, Van. Terserah kamu aja". Aku lelah berdebat. Iya, aku paling malas berdebat, apalagi soal hati.

***

Seminggu kelabu udah berhasil aku lewati dengan awan mendung yang tak juga singgah dari kepalaku, dengan kamu yang seperti kepulan asap yang selalu berhasil memenuhi ruang-ruang kosong di otakku, dengan kamu yang mungkin sekarang malah sudah berhenti memikirkanku. Entahlah, aku seperti ingin menyerah tapi juga ingin bertahan. Aku begitu menyayanginya yang selalu menyuguhkan kenyamanan untukku. Tapi aku juga mulai lelah harus tetap diam dengan segala rasa yang berkecamuk di hatiku.

"La, kita udahan aja ya. Aku gabisa nerusin semua ini, La. Maafin aku yang berhenti perjuangin kamu, La. Maafin aku.."

SMS itu tiba-tiba muncul di layar HP ku. Ivan minta kita udahan, iya, Ivan minta kita putus. Rasanya bintang gemerlap yang dia suguhkan seperti jatuh satu persatu. Aku bingung, masih banyak pertanyaan di benakku dan tak satupun dari pertanyaan itu terjawab.

Hingga esoknya aku melihat post foto dia sama cewek lain di FB dia. Iya, sama cewek lain. Jadi dia yang udah berhasil gantiin posisi aku sekarang? Parahnya lagi aku tau mereka udah jadian. Dan jadiannya itu pas Ivan masih sama aku. Iya, Ivan selingkuh. Ivan gak ngehargain kesetiaan aku sama sekali.

Hai, cantik, siapa pun kamu. Makasih ya, makasih udah hadir diantara aku dan Ivan. Makasih karena dengan kehadiranmu aku jadi tau bahwa rasa sayang Ivan untukku tak setebal rasa sayangku untuk dia. Makasih karena dengan kehadiranmu aku juga jadi tau, bahwa dia memang tak pernah benar-benar ingin mempertahankanku.

Pelangi, aku tahu kamu indah. Aku tahu kamu bisa menyunggingkan senyuman di raut wajahku. Tapi kini, aku harus menerima kenyataan bahwa hadirmu memang hanya untuk sementara. Menyuguhkan keindahan untukku, lalu pergi.


Oleh : Chikita Nawaristika

=======================================================

Baca cerita sebelumnya di :




Kamis, 30 Oktober 2014
Kamis, Oktober 30, 2014 7

APAKABAR CINTA??

Hai, apakabar cinta??
Aku mohon jangan bersedih..
Aku disini masih ingin mencintaimu saat aku baru terbangun di pagi hari
Aku disini masih ingin mencintaimu sampai matahari bertemu senja dan berganti rembulan

Cinta, aku memang tak pernah bisa berbuat banyak untuk membuatmu tetap tinggal
Aku memang tak pernah bisa membuatmu nyaman berada di dekatku
Tapi ini bukan berarti aku rela melepaskanmu begitu saja
Aku hanya membiarkanmu berpacu dengan semua anganmu, yang mungkin itu bukan aku

Cinta, aku sudah cukup paham bahwa dalam hidup pasti ada cinta yang datang dan pergi
Tapi aku juga cukup takut membiarkan cinta datang dan pergi
Iya, aku takut membuka hati untuk cinta yang lain
Sungguh, aku begitu takut membiarkan hatiku terpaut oleh cinta yang tak pasti

Cinta, aku tahu Tuhan pasti punya rencana indah untuk kita
Seperti yang orang bilang, akan ada pelangi setelah hujan
Akan ada bahagia setelah luka
Dan akan ada yang datang setelah kita menunggu

Tapi cinta..
Kenapa kamu begitu lihai berpacu dengan anganmu?
Kenapa kamu malah menjauh saat aku menunggumu?
Sungguh, aku masih ingin kau memelukku untuk terakhir kalinya
Sungguh, aku masih ingin kau mengucapkan kau tak lagi mencintaiku di depan mataku

Cinta, mungkin aku begitu bodoh
Tetap merindukanmu walaupun aku tahu kamu tak lagi merindukanku
Tetap ingin mendekatimu walaupun aku tahu  kamu terus menjauhiku
Tetap menyayangimu walaupun aku tahu kamu tak lagi menyayangiku

Cinta, kebahagiaan yang dulu pernah kau beri untuk kita nikmati telah berubah
Mungkin ini memang salahku
Terlalu mencintaimu dengan sepenuh hatiku
Terlalu menginginkanmu untuk bertahan padahal aku tahu
mata dan hatimu sudah tak lagi melihat ke arahku

Cinta, hati ini terlalu sakit karenamu
Aku hanya bisa meratapi kisah ini dengan air mata
Serpihan demi serpihan luka yang aku rasakan
Kepingan demi kepingan kisah kita yang aku ingat

Tapi kenapa?
Kenapa sampai sekarang aku tak bisa melupakanmu?
Kenapa rasa ini tak juga hilang, Cinta?
Kenapa kau tak membantuku membuang semua rasa ini?

Aku mencoba menjejaki tangis
Aku mencoba menghapus air mata di pipi
Seharusnya ini tak perlu aku tangisi
Harusnya aku tak terlalu membiarkan luka terus tumbuh atas kenangan yang telah pergi

Cinta, mungkin aku memang terlalu perasa
Mataku ini yang menjadi saksi bagaimana aku begitu mencintaimu dengan tulus
Hatiku yang menyuruhku untuk membiarkanmu masuk dalam hidupku
Tapi logika mulai melarangku untuk bertahan demi kamu yang menyakitiku

Cinta, air mata ini jatuh
Terus jatuh dan menumpah
Jatuh untukmu yang mengabaikanku
Untukmu yang tak pernah menghargai arti kesetiaanku

Rabu, 15 Oktober 2014
Rabu, Oktober 15, 2014 13

TA'ARUF?? TOLONG AJARKAN AKU LEBIH

Hai blogku yang cantik..
Sudah lama aku tak menuangkan isi otakku disini, hehe..

Eh, Chi lagi penasaran sama ta'aruf nih. Chi pengen ta'aruf, tapi Chi masih bingung, Chi masih ragu. Apa ta'aruf beneran bisa membawa kita bersama dengan orang yang tepat?

Bayangkan saja, yang sudah 'dipacari' baru kelihatan belangnya setelah bertahun-tahun, setelah rasa bosan mulai mengepungnya dengan godaan nafsu yang lain. Lalu bagaimana dengan ta'aruf? Yang untuk mengenalnya pun biasanya kita dipatok antara satu sampai tiga bulan saja. Bagaimana cara kita mengetahui kalau dia memang benar-benar orang yang tepat? Sungguh, berbagai pertanyaan selalu saja bersanding dengan kenikmatan ta'aruf sebelum menikah.

Iya, Chi tau.. Lelaki istimewa yang memilih untuk ta'aruf adalah lelaki yang benar-benar sholeh, lelaki yang taat, lelaki yang baik. Tapi apa 2-3 tahun kemudian aku akan tetap melihatnya seperti itu? Apa dia masih akan bersikap sama kepadaku?

Sungguh, yang Chi takutkan dari ta'aruf lalu menikah adalah sebuah perpisahan. Chi nggak mau ada kata pisah setelah pernikahan. Chi nggak mau kalau Chi harus melepaskan seseorang itu ketika cinta baru bersemi.

Nah, disinilah letak perbedaan antara pacaran dulu sebelum menikah dan ta'aruf dulu sebelum menikah. Kalau pacaran kan bisa lama sampai kita bener-bener kenal sama orang itu. Kalau ta'aruf? Kita nggak dosa emang, tapi cuma ada waktu yang singkat untuk mengenal dia, sedangkan sisi lain dari seseorang baru akan keliyatan kalau uda lama kan?
Kalau pacaran, pisah pun kita belum nikah, nah kalau ta'aruf?

Iya, Chi tau, kalau dalam proses ta'aruf dan hati kita tak sejalan kita bisa memilih untuk tidak melanjutkan prosesnya. Yang Chi maksud disini, bagaimana kita bisa lebih mengenal dia untuk waktu yang singkat? Apa ada proses ta'aruf yang berjalan dengan begitu lama sampai tiap individu benar-benar mengenal karakter pasangannya? Lalu kalau ada, apa bedanya proses ta'aruf itu dengan pacaran? Toh semakin lama semakin mengundang nafsu juga kan?
Aaaaahhhh, sungguh, Chi ingin tahu lebih banyak lagi.